7 Perihal yang Wajib Dicermati buat Membuat Konten yang Sanggup Tingkatkan Penjualan

Kenyataannya:

Web yang memakai content marketing memperoleh konversi serta penjualan 6x lebih besar daripada yang tidak( OneSpot, 2015).

Konten itu dapat menjual…

.. bukan hanya bagaikan intermezo, panduan, ataupun data.

Apabila dimanfaatkan dengan benar bagaikan media pemasaran, hingga— semacam angka di atas— penjualan hendak bertambah ekstrem.

Benarkah begitu?

Belum pasti.

Pada prakteknya, terdapat pula yang tidak merasa khasiatnya. Banyak.

Telah membuat konten, wisatawan berdatangan, tetapi nyatanya penjualan senantiasa begitu- begitu saja. Ini yang kerap terjalin.

Bukan salah sistemnya,

Namun salah kontennya…

Sebab konten kamu tidak sanggup menjual.

Dalam postingan ini kamu hendak menekuni kenapa orang- orang tidak membeli dari kamu, serta gimana menghasilkan konten yang sanggup menjual.

Kenapa mereka tidak membeli dari kamu?

Terdapat bermacam alibi, nyatanya.

Ayo kita bahas sebagian di antara lain tanpa memandang apakah produk/ jasa yang dijual telah layak ataupun belum. Serta cuma dari segi konten saja.

Ini berarti:

Buat membuat konten yang sanggup tingkatkan penjualan, kamu wajib betul- betul menguasai apa yang membuat orang web memutuskan buat tidak membeli.

3 perihal ini merupakan alibi utamanya…

…ketiganya ialah halangan yang wajib kamu hancurkan satu per satu saat sebelum orang ingin berganti jadi kustomer.

1. Sebab belum percaya

Online ataupun offline, orang- orang tidak hendak membeli dari penjual yang tidak dipercaya.

Namun terdapat perbedaannya.

Jika offline, kita dapat memandang langsung. Sang penjual memiliki toko raga serta ia dapat langsung memperlihatkan apa yang dijual di depan mata kamu.

Tidak demikian di online.

Seluruh orang dapat membuat web, apalagi penipu sekalipun.

Tetapi itu masih sepele…

Meyakinkan orang lain kalau kita bukan penipu itu gampang.

Perkaranya, walaupun kamu telah dirasa bukan penipu mereka belum pasti ingin membeli. Kamu wajib dapat memperoleh keyakinan bagaikan yang terbaik.

Jadi, 2 sesi.

Sebab seperti itu buat memperoleh keyakinan dari orang lain kamu perlu usaha ekstra dibanding melaksanakan penjualan offline.

Untungnya, content marketing( yang pas) dapat jadi solusinya. Hendak dipaparkan lebih lanjut di dasar.

2. Tidak pas sasaran

Ini kesalahan yang sangat kerap dicoba oleh praktisi digital marketing.

Semacam yang dahulu dirasakan oleh Groove.

Groove merupakan aplikasi help desk. Jadi semestinya sasaran pasar mereka merupakan para pengusaha yang memiliki permasalahan dengan urusan customer service.

Nah, perkaranya web mereka dahulu cuma mangulas tentang pengembangan bisnis:

Walaupun bersama tentang bisnis, tetapi orang yang mencari data pengembangan bisnis tidak membutuhkan aplikasi mereka.

Sehingga kontennya tidak sanggup tingkatkan konversi.

Sementara itu mutu dari konten yang mereka buat luar biasa. Aku sendiri pula langganan di blognya…padahal tidak terdapat hasrat buat memakai softwarenya.

Hingga dari itu, mereka setelah itu membuat jenis spesial mangulas customer service.

Sehabis diluncurkannya web ini, konversi mereka bertambah ekstrem. Pemasukan buat tiap konten yang diterbitkan di web menggapai angka $1, 657. 25.

  1. Wisatawan masih dalam keadaan pasif

Barang dalam kondisi diam hendak senantiasa diam, kecuali terdapat style yang mengubahnya.

Itu sebagian dari bunyi hukum 1 Newton.

Menariknya, manusia juga semacam itu.

Kala dalam keadaan pasif, kita hendak terus pasif…sampai terdapat suatu yang membuat kita aktif.

Orang- orang yang lagi browsing di internet otaknya dalam keadaan pasif. Baca postingan, amati foto, nonton video, buka tab baru– kemudian ditutup.

Tidak bergerak.

Jadi, konten yang kita buat wajib sanggup membuat mereka bergerak.

Jika tidak hingga mereka hendak senantiasa pasif.

Membuat konten yang sanggup menjual

Saat sebelum melanjutkan, aku menganjurkan kamu membaca seri panduan content marketing ini.

Terdapat 2 guna utama konten dalam pemasaran online:

1) Mendatangkan wisatawan, serta 2) tingkatkan penjualan.

Yang awal masih mudah…

…asalkan kontennya menarik, wisatawan hendak tiba sehabis konten tersebut dipromosikan.

Tetapi yang kedua perlu atensi ekstra.

Dalam penjualan online, kita wajib melewati 3 hambatan yang tadi disebutkan. Sebab itu konten yang hanya“ menarik” saja belum pasti dapat tingkatkan penjualan.

Inilah sebagian perihal yang wajib dicermati:

  1. Sajikan konten buat tiap sesi dalam sales funnel

Sales funnel ataupun kadangkala diucap marketing funnel merupakan tiap tahapan yang dilalui oleh tiap orang saat sebelum memutuskan buat melaksanakan pembelian.

Ayo kita amati kembali foto sales/ marketing funnel:

Marketing funnel

Jika kamu mencari di internet, tiap web hendak menunjukkan foto sales funnel yang berbeda satu sama lain. Walaupun demikian, intinya sama.

Secara universal terdapat 3 bagian:

TOFU( Top of the funnel): Awareness

MOFU( Middle of the funnel): Consideration/ Evaluation

BOFU( Bottom of the funnel): Purchase

Bagian atas, tengah, serta dasar.

Saat sebelum seorang memutuskan buat membeli, seluruh orang hendak melewati bagian- bagian ini.

Awal, mereka hendak siuman dengan perkaranya. Setelah itu menimbang- nimbang opsi yang terdapat. Terakhir, memutuskan buat membeli.

Ingat:

Konten buat masing- masing bagian tidak sama.

2 perihal yang kerap terjalin ialah cuma fokus di funnel atas( TOFU) serta cuma membuat konten buat funnel dasar( BOFU).

Akibatnya…

  1. Fokus di TOFU–

traffic jadi banyak tetapi tidak sanggup menjual

  1. Fokus di BOFU– sulit memperoleh traffic serta pembaca yang loyal

Oleh sebab itu wajib terdapat penyeimbang.

Buat menguasai konten apa yang wajib disediakan buat masing- masing bagian, ini uraian singkatnya:

TOFU– bagian atas funnel

Konten di bagian ini ialah konten yang dapat dinikmati oleh warga luas…karena tujuannya merupakan mendatangkan traffic.

Misalnya kamu menjual suplemen penurun berat tubuh.

Konten di bagian ini

TIDAK menarangkan kelebihan- kekurangan dari produk yang kamu jual. Bukan mangulas serta mempromosikan produk.

Kebalikannya, bagikan panduan berolahraga ataupun diet buat merendahkan berat tubuh.

Contoh lain, jika kamu menjual rumah.

Konten TOFU berisi panduan membeli rumah yang pas, memilah posisi yang cocok, potret- potret desain rumah, serta sebagainya. Konten yang kira- kira hendak dicari oleh mereka yang mau membeli rumah.

Jadi, sekali lagi…konten TOFU wajib dapat dinikmati apalagi oleh mereka yang dikala ini tidak langsung mau membeli.

MOFU– bagian tengah funnel

Dalam sesi ini, calon pembeli dalam proses membanding- bandingkan antara pemecahan satu serta pemecahan yang lain terhadap permasalahan mereka.

Jadi topik buat konten MOFU lebih mendalam.

Tujuan utama kita dalam sesi ini merupakan menghadirkan kalau terdapat pemecahan yang lebih gampang buat menuntaskan permasalahan mereka.

Serta kamu lah pemecahan yang mereka mau.

Misalnya:

Buat merendahkan berat tubuh, mereka tidak butuh olahraga separuh mati ataupun diet luar biasa ketat. Dengan dorongan produk yang kita jual, prosesnya jadi lebih gampang.

Jadi, kita menghadirkan sesuatu nilai tambah.

Dibanding dengan pemecahan tradisional ataupun pemecahan lain, produk/ jasa yang kamu tawarkan mempunyai nilai tambah yang menarik untuk mereka.

Biar lebih jelas, ini sebagian contoh tipe kontennya:

Riset permasalahan dari mereka yang telah memakai produk/ jasa anda

Statistik/ informasi/ fakta

Perbandingan, kelebihan serta kekurangan

FAQ, persoalan yang kerap diajukan

Video demo produk

Review/ testimonial

Buyer’ s guide– panduan dalam memilah produk yang tepat

Ini cuma sebagian, serta tidak seluruhnya dapat diaplikasikan pada tiap tipe bisnis.

Konten buat MOFU bertabiat edukatif namun pula persuasif.

BOFU

– bagian dasar funnel

Sesi terakhir, kala seorang telah siap melaksanakan pembelian.

Mereka telah dalam kondisi ter- edukasi dengan permasalahan yang terdapat dan pemecahan yang pas. Mereka telah tertarik dengan kamu.

Namun masih terdapat 1 hambatan lagi yang membatasi mereka buat melaksanakan pembelian.

Rasa khawatir, ataupun ketidakpastian.

Sebab seperti itu konten BOFU 100% bertabiat persuasif, contohnya:

Konsultasi gratis

Trial/ demo/ sampel

Sistem melaksanakan pembelian

Diskon ataupun bonus

Jaminan/ garansi

Tujuan kesimpulannya merupakan perasaan percaya.

  1. Identifikasi kasus yang nyata buat diselesaikan

Konten sebagus apapun hendak percuma jika isinya tidak menuntaskan kasus dari pembacanya hingga tuntas.

Ayo kita ingat kembali…

Apa yang membuat seorang mau melaksanakan pembelian?

Sebab mereka memiliki permasalahan.

Tetapi, ini yang terutama, melaksanakan pembelian itu merupakan opsi terakhir. Jika mereka tidak dapat menuntaskan permasalahannya sendiri.

Maksudnya begini:

Kamu tidak hendak dapat pengaruhi orang lain buat membeli jika belum apa- apa telah menyuruh mereka menghasilkan duit buat membeli.

Ini paling utama jika warga universal belum ter- edukasi dengan bisnis kamu.

Contoh:

Misalnya, kita menjual air alkali.

Katanya, air ini dapat jadi antioksidan, buat detoks, buat awet muda, dll.[1]

( Salah satu merk yang lumayan populer di Indonesia, Kangen Water, bisa jadi terdapat yang telah sempat dengar?)

Tetapi sebagian besar warga belum ketahui tentang produk ini.

Nah, jika kamu menjual produk ini secara online…

…Apakah kamu hendak membuat konten tentang:

Penafsiran& khasiat produk, jenis- jenisnya, proses pembuatan, dsb., atau

Sistem menghindari kanker, mensterilkan toksin badan, sistem jadi awet muda, dll.

Yang awal?

Okelah, dengan membuat konten yang awal kita hendak memperoleh wisatawan berbentuk orang- orang yang siap membeli produk tersebut.

Tapi…

Jumlahnya sedikit.

Sebab tidak banyak yang ketahui serta mengerti tentang produk tersebut. Jadi sebagian besar hendak“ cuek” kala membaca konten semacam itu.

Bandingkan dengan yang kedua.

Yang memerlukan data semacam itu JAUH lebih banyak.

Perbandingan 2 tipe konten

Walaupun dikala ini mereka belum ketahui menimpa produk tersebut, tetapi lewat konten tersebut kamu dapat memperkenalkannya bagaikan pemecahan.

Sebab mereka memiliki permasalahan yang dapat kita selesaikan dengan produk tersebut.

Itu sebabnya konten TOFU wajib menuntaskan kasus yang nyata.

  1. Perhatikan relevansi antara konten dengan produk/ jasa yang dijual

Ini semacam kasus yang dialami oleh Groove tadi.

Pada awal mulanya konten mereka tidak sanggup membagikan hasil positif sebab apa yang dibahas dalam konten tidak relevan dengan apa yang dijual.

Ini persoalan salah satu pembaca PIM:

Persoalan pembaca relevansi artikel

Misalnya jika menjual alat- alat kantor, tetapi konten yang diterbitkan seputar traveling. Apakah hasilnya hendak sama?

Tentu beda!

Begini…

Kita mau mendatangkan wisatawan, tetapi bukan sembarang wisatawan. Melainkan mereka yang memanglah memiliki kasus yang relevan dengan apa yang kita jual.

Jika sediakan konten travel, hingga orang yang tiba merupakan orang yang mau traveling. Bukan yang perlu peralatan kantor.

Dampaknya, penjualan sama sekali tidak bertambah.

Masuk ide kan?

Konten dalam pemasaran konten itu bukan hanya biar“ hanya terdapat”, tetapi wajib ditunjukan ke tujuan utama kita. Entah itu penjualan ataupun yang lain.

Solusinya: buat buyer persona

Ini pemecahan buat no 2 serta 3 di atas.

Biar konten yang kita buat betul- betul menuntaskan kasus. Serta biar konten tersebut pas target kepada orang yang berpotensi membeli dari kita.

Bicara ke orang yang tepat

Apa itu buyer persona?

Cerminan sempurna dari pembeli sempurna kita. Orang semacam apa yang berpotensi hendak membeli dari kamu.

Jadi misalnya kamu menjual peralatan kantor, hingga salah satu buyer persona- nya merupakan pengusaha baru yang baru membuka kantor.

Tidak menyudahi hingga di situ…

…kita masih butuh menganalisa lebih lanjut menimpa profil mereka, kasus mereka, serta lain- lain.

Seluruhnya dipaparkan lebih lanjut dalam panduan strategi content marketing ini.

Pada kesimpulannya, konten yang kita buat wajib fokus dengan kasus apa yang dialami oleh buyer persona. Dengan demikian pemasaran serta penjualan jadi pas target.

  1. Buat konten instan, konten yang gampang dipraktekkan

Coba bayangkan:

Kamu lagi belanja di Hypermart ataupun swalayan lain…

…kemudian terdapat seseorang sales yang menawarkan sesuatu merk santapan beku. Sang sales mempraktekkan betapa gampang proses memasaknya, sehabis itu kamu dipersilahkan buat berupaya.

Tentu timbul kemauan buat membeli.

Ini sebab kita telah ditunjukkan“ benefit” yang hendak kita terima.

Kira- kira semacam itu jika offline.

Perkaranya, kala lagi mereka membeli secara online kamu tidak dapat mempraktekkan langsung. Kecuali kamu dapat membagikan trial/ demo kepada calon pembeli.

Sebab seperti itu kita perlu konten instan ini.

Maksudnya: konten berbentuk panduan yang dapat langsung dipraktekkan oleh pembaca serta langsung membagikan khasiat positif untuk mereka.

( Hati- hati, instan bukan berarti sederhana ataupun simpel)

Tipe terbaik buat tujuan ini merupakan panduan, bukan data ataupun berita…bukan hanya teks.

Ini sebabnya:

Konten semacam itu dapat menuntaskan 2 permasalahan sekalian.

Awal, mereka hendak“ bergerak” dari pasif jadi aktif.

Masih ingat 3 alibi kenapa seorang tidak membeli? Paling utama yang ketiga.

Pada biasanya orang- orang di internet masih dalam kondisi pasif. Makanya kala ditawarkan buat membeli mereka tidak langsung membeli.

Kala berakhir membaca konten, mereka masih pasif.

Membaca konten biasa

Konten instan dapat jadi penggerak.

Mereka tidak menyangka konten hanya konten lagi sebab mereka dapat melaksanakan suatu setelahnya.

Terdapat yang lebih berarti lagi,

Apabila konten yang kamu bagikan dapat langsung membagikan khasiat untuk pembaca, hingga dalam sekejap kamu jadi wujud yang dipercaya.

Mempraktekkan konten praktis

Misalnya sebab aku membagikan panduan marketing, hingga pembaca yang merasa konten ini berguna hendak menyangka kalau aku seseorang pakar marketing. Hingga apabila aku membuka jasa marketing, orang lain hendak lebih percaya buat membeli( dibanding tanpa konten sama sekali).

Jadi kala membuat konten, jangan jelaskan“ Apa” melainkan“ Gimana”.

  1. Bagikan suatu yang diganti dengan sesuatu

Membingungkan ya bahasanya…

Hendak aku jelaskan latar belakangnya dahulu.

Dokter. Robert Cialdini, seseorang ahli psikologi serta marketing, dalam bukunya“ Influence: The Psychology of Persuasion” mengatakan terdapat 6 prinsip yang dapat digunakan buat pengaruhi orang lain supaya mengambil aksi.

Lebih lanjut menimpa keenam prinsip tersebut dapat dibaca di PDF free ini( 2 MB).

Prinsip- prinsip ini kerap diaplikasikan oleh orang- orang sales serta marketing.

2 di antara lain hendak kita manfaatkan.

Yang awal merupakan Commitment& Consistency.

Intinya, orang- orang hendak lebih bisa jadi buat melaksanakan komitmen yang lebih besar apabila mereka telah sepakat dengan komitmen yang lebih kecil tadinya.

Menghasilkan duit, melaksanakan pembelian, itu komitmen besar.

Sementara itu kita mau menjual dengan konten. Membaca konten dari suatu web itu tidak memerlukan komitmen, betul? Mereka tidak memerlukan usaha apapun.

Jadi terdapat gap besar di mari.

Gap dalam content marketing

Antara konten yang tanpa komitmen dengan pembelian yang komitmennya besar.

Hingga dari seperti itu hanya konten saja belum lumayan buat pengaruhi mereka supaya membeli.

Kita perlu suatu di antara lain.

Komitmen kecil

Contoh komitmen kecilnya dapat salah satu dari:

Mendaftarkan email

Membagikan no telepon

Membuat account gratis

Ataupun yang lain…tergantung dari tipe bisnis kamu.

Tetapi gimana biar mereka ingin rela membagikan salah satunya?

Buat seperti itu kita manfaatkan satu prinsip persuasi lagi:

Reciprocity( timbal- balik).

Orang lain hendak cenderung membagikan suatu kepada kita apabila kita membagikan mereka suatu terlebih dulu. Contohnya, jika kita membantu seorang hingga orang tersebut hendak merasa memiliki kewajiban buat balas budi.

Hingga dari itu kita yang wajib membagikan mereka duluan.

Misalnya:

Ebook

Diskon

Demo/ trial/ sampel

Bagaikan gantinya mereka hendak lebih rela membagikan komitmen kecil tadi kepada kamu.

Contoh pelaksanaannya dapat dilihat di web ini.

Aku menyimpan form registrasi email di sebagian tempat. Kamu pula tentu telah memandang sebagian di antara lain.

Salah satu jenisnya merupakan layar popup, ini rasio konversinya:

Rasio konversi popup

Antara 4. 39% hingga 8. 94%.

Tidak jelek- jelek amat memanglah, tetapi ayo kita amati 1 tipe lagi:

Content upgrade

Di mari aku menjanjikan file bonus kala pembaca memasukkan alamat emailnya. Rasio konversinya semacam ini:

Rasio konversi content upgrade

Dari 5% hingga 15%. Nyaris 2x lipat.

Dengan membagikan suatu, hingga orang lain hendak lebih cenderung buat rela membagikan kita suatu.

  1. Jalani email marketing

Ini lanjutan dari no 5 di atas.

Kita telah memperoleh“ suatu” dari mereka. Email, no telepon, PIN BBM, username LINE, ataupun apapun…mestinya ialah kontak yang dapat dihubungi.

Jadi tidak wajib email.

( Walaupun yang telah berupaya tentu setuju jika email sepanjang ini sangat instan)

Yang berarti kita wajib dapat menjangkau mereka.

Serta pastinya tidak menyudahi hingga di situ. Percuma kita memperoleh kontaknya namun tidak ditindaklanjuti.

Namun tidak semudah itu, sehabis memperoleh emailnya kita tidak langsung melaksanakan spamming penjualan begitu saja mengarah inbox mereka.

Semacam ini kesalahan yang sangat universal:

Membagikan gratisan diganti email ataupun kontak lain

Setelah itu memiliki 1000an email list

Dikirimkan“ email blast” yang menawarkan produk

Report as spam…tamat

Ini salah besar.

Begini, jika kamu mau sukses menjual secara online– hingga kamu wajib kurangi proses menjualnya. Tidak terdapat orang yang suka dengan orang yang senantiasa menyuruh mereka membuka dompet.

…kecuali kala mereka telah siap membeli.

Hingga dari seperti itu tugas utama kamu merupakan mengkondisikan mereka supaya siap buat membeli.

Gimana?

Tadi kita telah berdialog tentang sales funnel. Terdapat TOFU, MOFU, serta BOFU.

Konten yang diterbitkan di web sebagian besar merupakan TOFU, tujuan utamanya buat mendatangkan traffic. Sebaliknya dalam email marketing, yang kita bagikan kepada audiens merupakan konten MOFU serta BOFU.

Proses yang dilalui oleh seseorang calon pembeli

Kembali ke contoh tadi, buat web yang menjual suplemen penurun berat badan…

…seperti ini kira- kira proses yang dilalui:

Masuk ke web
membaca“ sistem merendahkan berat tubuh”
mendaftarkan email buat memperoleh bonus
mengarah taman produk
mengarah konten riset permasalahan, testimonial, ataupun FAQ
memperoleh kupon diskon
melaksanakan pembelian.

Idealnya semacam itu.

Namun acapkali prosesnya menyudahi di tengah- tengah.

Hingga dari itu seperti itu kita perlu email mereka, biar kita dapat menegaskan mereka kembali buat melanjutkan prosesnya.

  1. Jalani analisa konten

Jika kamu telah memiliki kontennya,

Apakah konten tersebut sukses menciptakan penjualan?

Apakah konten ini percuma?

Ataupun malah berdampak kurang baik?

Kita tidak hendak ketahui apabila kita tidak melaksanakan analisa.

Bukan dengan asumsi…

…melainkan informasi yang nyata.

Hingga dari seperti itu kita butuh melaksanakan analisa konten.

Yakinkan konten mana yang membagikan hasil terbaik, mana yang percuma, serta mana yang malah berdampak kurang baik. Setelah itu dari hasilnya kamu hendak ketahui konten semacam apa yang wajib terbuat kedepannya.

Sebab topik ini sendiri lumayan panjang buat dibahas, silahkan baca panduan analisa konten.

Mulai dari mana?

Seperti itu ketujuh perihal yang butuh kamu perhatikan buat membuat konten yang sanggup menjual beserta contoh prosesnya.

Jika kamu membaca hingga titik ini, berarti kamu:

Belum memiliki konten, baru mau mulai

Telah memiliki konten namun belum efektif

Buat jenis ke- 2, silahkan jalani analisa terhadap konten yang telah terdapat, setelah itu hilangkan seluruh konten yang kinerjanya kurang baik. Tetapi tidak butuh dihapus jika kamu tidak rela.

Sehabis itu, tercantum untuk kamu yang tipe- 1, silahkan mulai dari:

Sesi 1: Buat konten instan. Pakai tata cara KTP bagaikan panduan jika kamu mau membuat konten yang bermutu. Baca pula panduan memilah topik konten ini.

Yakinkan konten tersebut terdapat di TOFU( bagian atas funnel).

Sesi 2: Sajikan“ suatu” yang dapat kamu bagikan kepada pembaca konten buat memperoleh email mereka. Baca panduan list building ini.

Sesi 3: Promosikan konten instan yang barusan terbuat.

Sesi 4: Sehabis memiliki traffic serta email list, mulai dorong ke arah pembelian dengan mempromosikan konten MOFU serta BOFU( bagian tengah serta dasar funnel) kepada mereka.

Sehabis itu jalani analisa, konten mana yang tidak membagikan hasil positif.

Terakhir, bagaikan bonus, pelajari metode Copywriting buat mengenali gimana membuat tulisan yang sanggup menjual.

[1] Disclaimer: Menimpa air alkali, dalam postingan ini aku bukan mau merekomendasikan produk tersebut kepada kamu. Data tersebut dilansir dari web lain serta bukan lewat pengalaman individu. Penyebutan tipe produk serta merk cuma murni buat contoh.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *